Rabu, 02 Maret 2011

Dampak berbohong pada anak

Awalnya anak-anak kita selalu mendengarkan perkataan orang tuanya. Mengapa? karena percaya penuh pada kedua orang tuanya. Namun ketika beranjak dewasa, ia mulai sering melawan, bandel, tidak mau menuruti nasehat dan perkataan kita, meraka tidak percaya lagi dengan kita sebagai orang tuanya. Waduh kenapa Ya?

Tanpa sadar sebagai orang tua, kita sering membohongi anak kita untuk menghindari keinginan atau agar kita berangkat kerja tidak ditangisi. Contoh kasus, pagi-pagi kita mau berangkat ke kantor, anak kita merengek minta ikut atau minta jalan-jalan. Apa yang kita lakukan? apakah kita menjelaskan kepada anak secara jujur? atau mengalihkan perhatiannya ke tempat lain agar kita bisa buru-buru bernagkat kerja? atau justru kita membohonginya. "mama sebentar saja ya sayang....cuma mau ke warung depan itu lho.... tetapi kita pulang sampai sore bahkan sampe malam. Kasus lainnya: anak kita susah makan, lalu kita memberikan janji-janji. nanti kalau makannya abis mama belikan sepatu. Padahal antara makan dengan sepatu jelas tidak asa hubungannnya sama sekali.

Berbohong yang sifatnya kecil ini berdampak luas. Kita telah mendidik anak kita menjadi anak pemberontak, susah diatur, dan tidak pecaya dengan perkataan orang tuanya. semua ucapan orang tua di anggapnya bohong. Bahaya kan??? Lalu apa yang perlu kita lakukan? Kita harus jujur kepada anak. Ungkapkan dengna penuh kasih sayang bahwa "mama akan berangkat ke kantor, papa mau berangkat kerja. Bila perlu jelaskan mengapa harus bekerja, apa tujuan bekerja. Awalnya memang sulit, namun sebagai orang tua kita harus menjelaskannya kepada mereka. Memberi pengertian kepada mereka akan lebih baik ketika suasana hati anak kita sedang senang, misalnya saat berkumpul menjelang tidur. Memang dibutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan tidak jarang mereka justru menangis. Ini wajar sebab mereka belum memahaminya. kita harus terus berjuang untuk membuka pikiran mereka.

" Salah satu keberhasilan kecil orang tua adalah ketika bernagkat kerja tidak ditangisi anaknya"
Load disqus comments

1 komentar: